Jumat, 01 November 2013

Kucing Hitam

Diantara pelataran waktu yang memekat gelap
Jalanlah kucing hitam melalui lorong-lorong hitam
Menjelajah kelam dalam carut marut gelap
Mengendus wajah-wajah tanpa dosa yang berceceran tak beraturan
Memungkinkan mata
Tanpa warna
Tanpa rasa
Tanpa pengecualian
Hanya terdiam..

Masih meraba sepi tentang pencarian asa yang terburai malam
Tinggalkan seonggok pilu tatap tatap nanar sang kucing hitam
Dan lirik sinar rembulan menebak ujung jalan
Mencari jejak langkah yang masih tersisa

Lelah mungkin serasa perkosa pemikiran liar
Kembali pada titik untuk merajut kebisingan
Hingga terkapar dalam usai asa yang gersang

Lalu hentian mana yang perlu disinggahi
Bukankah aku dengan tanpa sadar
Mempengaruhi semua karya di luar cerita-cerita mereka
Yang terbenam menghilang bersama mimpi-mimpi yang menguap

Bahkan serasa menguap tak terarah
Dan membabi buta menyanyat warna malam
Hingga yang tersisa hanya letih

Kalbu yang masih lagi menanti
Bukan saja sang elok cahaya malu untuk berhitung kembali dalam beberapa detik terselimut beribu cahaya

Lalu haruskah kita hentikan menjadi sebuah pembenaran malam
Menanti ujung dari angan tanpa harap hias terjurat
Menjerat mimpi seperti gemerisik udara

Tidakkah penari-penari langit telah tertidur
Hampa tanpa sisa
Hingga tiada lagi suara yang terdengar
menuangkan hangat dalam cairan hitam pekat secara halus wangi itu terbaca

Sudahi langkah yg membata surat-surat malam
Hingga jeda waktu tak mampu menjabarkan resah langit yang muram

Tidak !
Begitu bulan kan sedikit saja tersenyum kepada mentari mengintip di balik bumi
Lalu apakah senyum itu akan bertahan dalam catatan langit
Atau hanya akan menghilang bersama gelombang pasang

Bukankah itu tanyamu
Melebihi binatang malam bersuara lantang
Mengarah kata makna akan bercumbu kembali gelap

Dan akhirnya
Inilah kisah malam dalam langkah kecil sang kucing hitam.

Jumat, 18 Oktober 2013

~ Tetaplah Bersamaku Sahabat ~

Ketika kisah cinta itu usai
Mungkin butuh waktu panjang untuk membiarkan rasa reda lalu menghilang
Walau terkadang kenangan itu masih lagi tersisa jadi cerita usang
Karena itu tetaplah bersamaku sahabat

Walau bukan mudah untuk jadi tangguh
Namun bukankah kita para penjaga tanah harapan tempat tersemai jutaan impian
Mengapa harus jadi lemah ketika badai menghempas letih raga

Karena seperti yang kau tahu
Bukankah kehidupan bukan hanya pengajaran tentang hangatnya mentari pagi
Atau indahnya lazuardi yang memerah saga

Karena kehidupan juga beri terjemahan arti perjuangan
Bahagia tidak tercipta percuma
Ada pengorbanan yang mesti siap kau berikan

Karena hidup juga akan bergolak laksana gelombang pasang yang siap menjunamkan jiwa-jiwa yang lemah kedasar labirin keputusasaan

Walau kita harus merangkak di kaki waktu
Tapi tak kan pernah ku ijinkan keputusasaan jadi senyawa di desah nafasku
Karena mimpi adalah kekuatan kita untuk jadi pencipta sejarah pada masa depan
Maka melangkahlah bersamaku sahabat
Dan juga mimpi-mimpi kita yang masih tersisa.

~ Diantara Rasa ~

Diantara resah yang mengusik
Ada debar rindu menyapa sudut gelap relung hati yg selama ini tak tersentuh
Ada tanya yang tercipta tentang hadirnya rasa didetak waktu
Dan ada aku yang masih tak mampu katakan tentang rasaku

Mungkin aku tampak lemah
Atau mungkin terlihat menyia-nyiakan masa
Jawaban akan tampak sempurna jika ku tak terus menghimpun tanya
Tapi apakah cerita dongeng akan selalu berakhir bahagia

Diantara pengembaraanku menjelajahi tanah kudus tempat tersemai jutaan mimpi yang tak tersentuh
Aku tak mengerti ketika langkahku terhenti pada satu destinasi yang masih samar
Aku juga tak tahu apakah ini hanya sekedar pelangi yang berkamuflase
Ataukah rasa yang nyata tanpa harus terjebak dalam bianglala imajinasi

Namun jujur aku menikmati senjaku dalam gairah yang berbeda
Walau akhirnya lazuardi tetap tampak memerah saga.

~ Ketika ~

Ketika ribuan senja di butuhkan pemahaman atas sakit yang diberikan
Maka selama itu pula
Sang pemilik kepak sayap mencoba belajar memahami tentang hakikat kenyataan
Bahwa sebuah catatan langit telah menjabarkan tentang kisahnya
Dan bukankah kau mengerti rasa itu

Lalu ketika kepak sayap yang patah itu kini telah kembali sempurna
Salahkah ia bila mulai merindukan langit?
Dan meninggalkanmu
Juga kidung kebijaksanaan yang selalu kau ajarkan

Apalagi setelah ditemukannya tanah harapan baru tempat himpunan semaian mimpi-mimpi tersimpan

Namun kepergiannya bukan berarti dia berhenti melupakanmu
Hanya belajar untuk jadi tangguh
Agar air matamu tak jadi sia-sia
Apalagi banyak pelajaran yang coba dia terjemahkan

Dan apakah kau tahu..
Bahwa sang pemilik kepak sayap itu yang kini akan jadi penjagamu walau hanya dalam diam.