Senin, 11 Mei 2015

Rabu, 09 Juli 2014

Marah Tidak Selalu Buruk

     Pernahkah terbayang pada diri kita, bahwa kita begitu tidak merasa baik saat marah. Merasa bahwa marah adalah perilaku buruk yang pernah kita lakukan. Tapi sadar atau tidak, kemarahan itu haruslah dikeluarkan. Bukan malah diredam. Atau malah melakukan pengalihan terhadap masalah yang menyebabkan timbulnya rasa marah itu. Dan informasi yang ingin saya sampaikan semoga bermanfaat untuk kita bisa berpikir. Silahkan jika ingin marah, tapi tetaplah untuk bersikap rasional. Semoga bermanfaat buat kita semua.

     - Kemarahan bisa mendapatkan keuntungan hubungan

   Kemarahan adalah reaksi alami untuk yang dirugikan oleh orang lain dan itu adalah cara berkomunikasi yang rasa ketidakadilan. Tapi masyarakat memberitahu kita marah berbahaya dan kita harus menyembunyikannya. Apa ini lakukan untuk hubungan pribadi kita?

Penelitian Anehnya telah menunjukkan bahwa menyembunyikan kemarahan dalam hubungan intim dapat merugikan (Baumeister et al., 1990). Masalahnya adalah bahwa ketika Anda menyembunyikan kemarahan Anda, pasangan Anda tidak tahu bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang salah. Dan mereka terus melakukan itu. Dan yang tidak melakukan hubungan Anda ada gunanya.

Ekspresi kemarahan, jika dibenarkan dan ditujukan untuk mencari solusi bukan hanya ventilasi, sebenarnya dapat menguntungkan dan memperkuat hubungan.

     - Kemarahan mengurangi kekerasan

Meskipun amarah sering mendahului kekerasan fisik, juga dapat menjadi cara untuk mengurangi kekerasan. Itu karena sinyal sosial yang sangat kuat bahwa situasi perlu diselesaikan. Ketika orang lain melihat sinyal mereka lebih termotivasi untuk mencoba dan menenangkan pihak marah.

Jika Anda masih belum yakin bahwa kemarahan bisa mengurangi kekerasan, membayangkan dunia tanpa kemarahan di mana orang tidak memiliki metode untuk menunjukkan bagaimana perasaan mereka tentang ketidakadilan. Mungkin mereka melompat langsung ke kekerasan?

Rabu, 12 Maret 2014

MEMPELAJARI SENI DAN TEKNIK MENULIS PUISI

Oleh: Tamara Audry Danuwidjaya

     Banyak orang bermimpi dan berpikir, bahwa mudah untuk jadi seorang penulis ataupun seorang penyair sehingga layak disebut seorang sastrawan. Punya buku atau ditasbihkan sebagai seorang sastrawan, terkadang cara cepat untuk bisa diakui oleh orang lain. Padahal apakah kita sadar, bahwa tanggung jawab sebenarnya kita dimulai adalah setelah buku kita dihasilkan,dicetak dan diedarkan. Bukan masa-masa proses penulisan atau editingnya. Apakah itu akan menjadi sebuah karya yang bermanfaat dan berguna buat orang lain? Apakah menghasilkan dan menemukan suatu ide atau bahasa-bahasa yang baru? Atau hanya menjadi pengulangan ide sehingga menjadi klise. Atau hanya jadi sebuah kumpulan sampah yang menyesatkan buat orang lain. Karena sebenarnya banyak hal yang harus benar-benar dipelajari dan dipahami untuk layak mengklaim diri sebagai seorang penulis, penyair atau sastrawan.
     Dan butuh proses serta kesabaran panjang untuk bisa menciptakan sebuah temuan dari banyaknya bahasa-bahasa baru.
Bahkan saya sendiri baru memahami beberapa istilah yang sering saya dengar dan baca, karena bodohnya saya hanya mengerti arti istilah itu tapi bukan benar-benar memahaminya.
Dalam "The art and craft of poetry" karya Michae J.Bugeja atau "The Elements of Style" karya William Strunk, Jr atau kutipan dari "Essential Poetry Technique" banyak yang bisa kita pelajari untuk menjadi panduan kita dalam menulis sebuah puisi. Tapi tentu saja dengan penulisan yang sedikit merumitkan.
     Dan mungkin dengan tulisan saya yang tidak terlalu bagus ini, bisa berguna buat teman-teman yang ingin mencoba menulis, tapi masih "ribet" dengan istilah-istilah dunia penulisan bagi orang awam kebanyakan. Karena saya mencoba menyederhanakannya menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar sederhana untuk dipahami. Terutamanya oleh diri saya sendiri.
Baiklah, mari kita mulai.

Metafor adalah pemahaman sederhana dari sebuah bahasa gambar yang bisa divisualisasikan dengan tepat dan benar saat proses mengolah konsep yang membutuhkan konsentrasi berpikir sehingga menghasilkan sebuah bahasa baru.

Simile juga memiliki persamaan dengan metafor, hanya saja harus menambahkan kata "seperti" ataupun setaranya.

Sedangkan extended metaphor atau perluasan metafor ditujukan untuk pengerucutan dan ia perluasan predikasi dari suatu subjek

contoh:

"wajahmu purnama raja
penuntun kaki pengembara di malam gulita
...
..."

Namun simile yang berbeda dengan metafor terjadi saat sebuah tulisan berakhir menjadi sebuah example

contohnya:

"Keajaiban gravitasi
Seperti bulan padam yang mengambang
Kemiringan hujan dan pepohonan"

; adalah tulisan yang memiliki hubungan relasi kepada obyek sehingga saling melengkapi visualisasi dari gravitasi dan akhirnya hanya menjadi sebuah example dari tulisan itu sendiri.

Kecerdasan puitik adalah kemampuan menemukan sesuatu, melihat yang tak terlihat, atau menarik hubungan antara hal-hal yang tampak tak berhubungan sekalipun. Di dalamnya terdapat sensitivitas penglihatan untuk detail yang signifikan dan relevan, kepekaan terhadap bahasa verbal maupun visual, dan keahlian naratif maupun figuratif yang memungkinkan bagi penciptaan sesuatu.

Apakah kecerdasan puitik berkaitan dengan puisi? Apakah kecerdasan puitik adalah kecerdasan berpuisi?

Ya, kecerdasan puitik berkaitan dengan puisi, kecerdasan berpuisi. Puitik adalah kata sifat bagi puisi atau hal-hal yang berkaitan dengan puisi. Sebagai kata benda, puitik adalah praktik menulis puisi atau komposisi puitik, risalah mengenai sifat, bentuk, dan hukum puisi.
  
Kecerdasan berpuisi? Seberapa pentingkah?

Tak dipungkiri bahwa puisi bagi kebanyakan orang memiliki reputasi yang buruk, tak lebih dari sekumpulan kata-kata kosong aneh, ungkapan perasaan mendayu-ndayu, atau kalimat-kalimat putus asa penuh tanda seru, yang tak memiliki relevansi apapun dengan kehidupan. Pandangan itu tentu sebuah kesalahpahaman.

“Puisi” berasal dari kata Yunani “poiesis”—“poiein”, yang artinya “menemukan”—“menciptakan”. Sebagai penemuan-penciptaan, puisi pertama-tama tentu soal penghayatan, pertanyaan terhadap realitas dalam maupun luar dan pencarian jawabannya. Hal ini membuat puisi selalu relevan bagi kehidupan, bahkan signifikan, penting.

Jawaban-jawaban atau realitas-realitas baru yang ditemukan dalam proses penghayatan itu tentu belum terbahasakan, sehingga dibutuhkan metafor-metafor yang diciptakan melalui penukaran, pengubahan tanda, atau analogi dari aset bahasa berdasarkan prinsip-prinsip similaritas-dissimilaritas, yang ketepatan dan kebermaknaan merupakan taruhannya.

Contohnya:
“I believe the souls of 500 Sir Isaac Newtons
would go to the making up of a Shakespeare or a Milton"

(Samuel Taylor Coleridge)

; ungkapan diatas bermaksud bahwa

1 shakespeare atau 1 milton = 500 newton

; yang juga bermaksud bahwa untuk menjadi seorang penyair atau penulis membutuhkan kecerdasan lebih dari seorang ilmuwan.

Itu dikarenakan bahwa seorang ilmuwan hanya perlu 1 eureka, sedangkan seorang penyair atau penulis, membutuhkan eureka dalam setiap langkahnya.

note:
Eureka adalah teriakan saat seseorang menemukan sesuatu; i find it !
( berlaku kepada ilmuwan, penyair ataupun penulis ).

     Namun yang membedakannya kepada seorang penyair ataupun penulis dari seorang ilmuwan adalah temuan kata yang seharusnya tak asing namun bukan berarti menemukan sesuatu dan menyatakan sesuatu yg umum, sudah biasa atau klise.
Karena ketika menemukan sebuah penemuan, maka pasti memerlukan bahasa baru. Dan karena itu bahasa baru, menemukan bahasa baru, maka ia pasti sebuah metafor.
     Seperti sebuah epifani yang tampak seperti kesadaran tiba-tiba, namun sebenarnya ia adalah hasil pencarian dari sebuah usaha keras untuk menemukannya.
Karena epifani adalah sebuah pencerahan dalam situasi di mana realisasi mencerahkan memungkinkan masalah atau situasi yang ditemukan dapat dipahami dari perspektif baru dan lebih dalam tentunya.

Because, I always think being a writer it is the coolest job in the world.Turns out that writing is easy. But it was not easy when we want to make the field of writing as a job. Because writing is not just writing. There should be awareness that writing is not only need talent. But it is also a good technique and imagination. So for me, being a writer remains the coolest job in the world. But at the same time be the most difficult job. Because of the talent, ability, technique, taste, and imagination becomes the most important element. And finally, not all authors were able to write a good article. Even the big names are not a guarantee of the best writings. Even sometimes feels like writing rubbish. So what we have to do is learn. Yes, learning to write well.

Sumber:

Mengutip beberapa tulisan, komentar dan status dari akun Facebook Nuruddin Asyhadie
Mengutip beberapa komentar pada sebuah note akun Facebook Eimond Esya yang berjudul Keindahan Arkeologi.
Buku The art and craft of poetry karya Michae J.Bugeja
The Elements of Style karya William Strunk, Jr
Kutipan dari "Essential Poetry Technique"
Hasil googling

Minggu, 09 Maret 2014

Aku Bahagia

Minggu ketiga bulan Maret
Pagi hari, cuaca di Kuala Lumpur mendung
Menyentuh bantal, mencari bayangan lelakiku
Memejamkan mata, masih terasa pelukannya malam tadi
Tiap sentuhan lembut, bisikan penuh rindu, kata-kata cinta
Aku tersenyum, bahagia

Beberapa waktu lalu, aku tampak bodoh
Menangis, merindu, kesepian dan terluka
Ada kisah tragis yang tak mampu diterima

Aku beranjak dari ranjang, meraih my phone
Hanya ingat sebuah nama, aku merindukannya
Mon cheri..

Suara paraunya, baru saja terbangun, aku menggodanya
Tiap ucapannya selalu membuatku tertawa
Terkadang seperti orang gila, tersenyum dan tertawa sendiri, bahagia

Dia kekasihku
Dan aku bahagia bersamamu.

( TAD, Maret 2014)

Sabtu, 08 Maret 2014

LELAKIKU

Kamu tahu..
Kamu bukan lelaki menarik yang bisa membuat aku jatuh cinta
Kamu bukan lelaki idaman yang akan membuatku mudah merindu
Tapi entah bagaimana, aku sendiri masih bertanya
Saat kamu hadir jadi begitu istimewa

Kamu tahu..
Aku bukan perempuan yang pandai menulis kata untuk mengatakan perasaan
Aku bukan perempuan anggun yang bisa membuatmu terpesona
Aku bukan perempuan menarik yang bisa membuatmu jatuh cinta
Tapi entah bagaimana, kamu sendiri masih bertanya
Saat aku hadir jadi begitu istimewa buatmu

Banyak hal terjadi, seperti sebuah keajaiban
Hal-hal menarik yang tak diperhitungkan
Hubungan cinta pun tercipta tanpa rekayasa

Kita pernah punya masa lalu dan kita tahu itu
Belajar memberi dan menerima tanpa paksaan
Menjaga hati dan diri atas nama kepercayaan.

(TAD, Maret 2014)

Jumat, 07 Maret 2014

Ketika Aku Mengenangmu

Aku mungkin bukan perempuan yang mampu menuliskan kata sebaik T yang selalu membuatmu excited
Aku mungkin bukan perempuan yang mampu bermulut manis seperti M yang selalu membuatmu tertawa
Aku juga bukan perempuan menarik seperti C yang bisa membuatmu berdebar ingin mendekatinya
Aku hanya perempuan naif, bodoh, keras kepala, bermulut kasar dan berego tinggi
Yang terus berusaha menulis untuk membuatmu bangga, walau hasil tulisanku cuma sampah
Perempuan yang selalu susah tidur dan menghabiskan malamnya hanya merokok dan berharap bisa bicara denganmu
Memperhatikan apa yang kau lakukan dibalik dinding kaca
Hanya sebuah kenangan yang tersisa, bukan hal yang menyenangkan malah
Mungkin buat orang lain kau tidak tampan, bahkan usiamu jauh dariku
Tapi buatku, kau adalah lelaki yang paling brengsek yang membuatku bertekuk lutut
Yang sampai detik ini masih mampu menagis karena merindukanmu
Yang harus belajar membenci untuk bisa melupakanmu
Aku mungkin bukan seperti perempuan-perempuan yang pernah singgah dalam hidupmu
Aku hanya perempuan yang pernah mencintaimu dengan segala kelemahanku.

(TAD, Maret 2014)

Kamis, 06 Maret 2014

Love Unconditionally

Satu sketsa wajah samar hadir dalam mimpi; vision
Entah siapa, entah dimana

Mimpi-mimpi panjang yang meletihkan
Sempat terlupakan, tak ingat malah
Puzzle cerita yang tak tahu harus disusun seperti apa, terlalu banyak lompatan cerita yang menambah kerumitan
Dejavu, peristiwa-peristiwa tak terelakkan

Lelaki itu, pemilik wajah samar yang selalu kulihat pada tiap vision
Bukan kekasihku, atau para pemujaku
Entah siapa dia, kemudian menjadi pertanyaan yang terlupakan

Lelaki itu dihadapanku kini, bukan nyata tubuh
Namun aku mampu merasakan tiap lekuk wajahnya, mendengarkan degup jantungnya, menyatu bersama sukmaku

Entah perasaan apa ini, sebuah kepercayaan, cinta tanpa syarat hadir menyempurnakan pencarian
Aku terhenti pada satu takdir yang aneh, benarkah?
Apakah reinkarnasi?
Atau hanya pengulangan karma?
Entahlah, apa peduliku.

(TAD, FEBRUARI 2014)

My Illusion

Ada gairah tiap kali kau ada walau tak nyata
Samar wajahmu seakan mampu ku sentuh
Degup jantungmu seakan menyatu bersama aliran darahku
Pelukmu menghangatkan tiap inci persendian tubuhku
Seakan hanya ada kau dan aku tercipta laksana adam dan hawa
Apakah ini cinta?
Kasih sayang seperti apa yang sedang kita cipta?
Bahkan ketika aku tahu, aku hanya pengulangan karmamu
Tida kemarahan, hanya sebuah pengabdian untuk rasa yang hadir

Dalam pelukmu, ada kemarahan yang teredam, entah mengapa?
Seperti sentuhan jemari yang menyusuri tiap lekuk wajahmu
Matamu, hidungmu, bibirmu, seoerti sebuah kenyataan yang absolut
Tiada pengingkaran, hanya sebuah penerimaan abadi
Aku mencintaimu tanpa syarat

Aku mampu mendengar desah nafasmu, merasakan erat pelukmu dalam hangat gelombang koneksi yang tak dimengerti
Menjadikan samar wajah itu nyata dalam pikiran dan hatiku.

(TAD, FEBRUARI 2014)

My Vision

Bayang-bayang yang membingungkan; pria tak dikenal
Vision-vision melelahkan; perempuan menyedihkan

Pertemuan yang tidak diduga, ketertarikan yang tidak pernah dibayangkan
Penjabaran panjang atas pengujian untuk sebuah temuan
Memperhitungkan tiap kemungkinan; memperkecil manipulasi
Bahwa kebenaran adalah sebuah kenyataan

Masih lagi meragukan; tentu saja
Siapa yang akan percaya untuk sebuah mimpi yang tak mampu dipertanggungjawabkan
Bahkan mungkin akan dianggap gila untuk semua pernyataan

Dalam tangan perempuan itu setiap desakan aura tersentuh
Dalam mata perempuan itu masa depan diperlihatkan semesta
Dalam tubuh perempuan itu penyatuan disempurnakan

Seperti cinta purba; keterikatan akan masa lalu
Yang tak pernah mati; walau ratusan abad terpisah
Tanpa tahu akhirnya, tanpa bisa mengubah takdirnya.

(TAD, MARET 2014)

Jumat, 28 Februari 2014

Rahim Cahaya

Mimpi-mimpi itu kembali hadir, tanpa jarak, tak berpecah, masih membingungkan
Persetubuhan astral; hanya mampu melihat
Peta langit makin terbuka
Entah untuk apa?
Para pelindung mulai berbicara
Para indigo mulai bersiaga
Entah mengapa?

Malam-malam panjang masih menyisakan misteri
Kekuatan tak terlihat mulai bergerak
Semakin kuat; terkadang seperti pembunuh tanpa bayangan
Hanya mampu merasakan

Rahim cahaya dipersiapkan
Ketika waktu sudah tak lagi mampu diperhitungkan
Ketika para indigo tak mampu lagi jadi penjaga.

(TAD, MARET 2014)

Minggu, 23 Februari 2014

Sang Perantara

Ketika pintu cahaya terbuka bersama misteri yang terkandung didalamnya
Cerita tak sempurna hadir laksana pecahan puzzle
Mencari jawab untuk setiap petanda, ada sebuah kisah yang harus diurai

Mimpi-mimpi, vision, peristiwa tak terelakkan, hanya sebagian kata kunci dari sebuah rahasia langit
Menerka, mengira, merasakan dan menguji tiap kemungkinan
Berharap tak terjadi penyimpangan

Perempuan itu, dengan takdir yang membingungkan
Mencari jawab atas pilihan semesta; dia adalah sang perantara
Dipersiapkan untuk menjadi pelindung
Dihadirkan untuk menjadi pengabdi
Dihapuskan ketika cahaya menjadi hakiki.

(TAD, FEBRUARI 2014)

Jumat, 21 Februari 2014

My Destiny

Laut, angin, cahaya dan semesta, menyatu dalam vision yang terkadang tercipta bagai lompatan cerita
Peristiwa-peristiwa yang tak terelakkan, menghantui bagai sebuah mimpi buruk
Melihat, hanya untuk melihat, tak merubah apapun
Merasakan, hanya untuk merasakan, tanpa perduli apakah aku akan marah atau menangis, akan gembira atau malah bersedih
Aku hanya sebuah takdir yang membingungkan

Terlahir sempurna, namun hidup dalam dunia yang tidak sempurna
Memiliki segalanya, namun hanya sebuah nama yang tersisa

Seperti cinta, yang tak pernah abadi
Hanya jadi sang perantara bagi pria-pria terpilih

Semesta memilihku untuk jadi pengabdi cahaya
Menjadi pelindung sebelum semua dihancurkan bala
Menghantarkan jiwa terpilih, lalu berakhir tanpa perlu dikenang
Karena aku hanyalah sebuah takdir yang membingungkan.

(TAD, FEBRUARI 2014)

Senin, 04 November 2013

~ Selamat Tinggal Cinta ~

Diantara gemerisik angin menyapa waktu
Langkah langkah kisah berkejaran dalam lorong lorong sejarah kusam
Dimana pernah ada cerita cinta
Tentang kamu
Tentang aku
Tentang kita

Namun setelah semua rasa kini telah usai
Aku seakan tersadar sesuatu
Bahwa ternyata aku masih mampu berdiri tanpamu
Bahwa ternyata aku masih bisa tersenyum bukan karenamu
Bahwa ternyata..
Aku masih bisa bahagia bila tanpa hadirmu

Maka inilah aku
Yang akhirnya mampu memandangmu
Tanpa lagi ada luka
Tanpa lagi ada kecewa
Tanpa lagi rasa bersalah.

Minggu, 03 November 2013

Lumpuhkan Ingatanku

Semusim rasa itu pernah menggelorakan gairahku
Mencipta cinta tak bertuan
Memendam rindu tak beraga
Hanya sepi jadi penyempurna harap

Mungkin ini adalah sebuah kesalahan
Membiarkan asaku mengembara
Mencarimu diantara langit langit mimpi

Tapi sampai kapan harus kubiarkan
Langkahku terhenti pada pintu labirin tak berpenghuni

Sampai kapan..
Doa doa harapku hanya seperti nyanyian tak bernada
Yang hanya mencipta air mata tak berarti
Bukankah aku juga berhak bahagia untuk rasaku

Tuhan..
Tolong lumpuhkan ingatanku tentangnya
Agar tiada lagi harap
Agar tiada lagi rasa
Agar tiada lagi cinta
Agar tiada lagi kecewa
Agar tiada lagi ingatan tentangnya.

Jumat, 01 November 2013

Kucing Hitam

Diantara pelataran waktu yang memekat gelap
Jalanlah kucing hitam melalui lorong-lorong hitam
Menjelajah kelam dalam carut marut gelap
Mengendus wajah-wajah tanpa dosa yang berceceran tak beraturan
Memungkinkan mata
Tanpa warna
Tanpa rasa
Tanpa pengecualian
Hanya terdiam..

Masih meraba sepi tentang pencarian asa yang terburai malam
Tinggalkan seonggok pilu tatap tatap nanar sang kucing hitam
Dan lirik sinar rembulan menebak ujung jalan
Mencari jejak langkah yang masih tersisa

Lelah mungkin serasa perkosa pemikiran liar
Kembali pada titik untuk merajut kebisingan
Hingga terkapar dalam usai asa yang gersang

Lalu hentian mana yang perlu disinggahi
Bukankah aku dengan tanpa sadar
Mempengaruhi semua karya di luar cerita-cerita mereka
Yang terbenam menghilang bersama mimpi-mimpi yang menguap

Bahkan serasa menguap tak terarah
Dan membabi buta menyanyat warna malam
Hingga yang tersisa hanya letih

Kalbu yang masih lagi menanti
Bukan saja sang elok cahaya malu untuk berhitung kembali dalam beberapa detik terselimut beribu cahaya

Lalu haruskah kita hentikan menjadi sebuah pembenaran malam
Menanti ujung dari angan tanpa harap hias terjurat
Menjerat mimpi seperti gemerisik udara

Tidakkah penari-penari langit telah tertidur
Hampa tanpa sisa
Hingga tiada lagi suara yang terdengar
menuangkan hangat dalam cairan hitam pekat secara halus wangi itu terbaca

Sudahi langkah yg membata surat-surat malam
Hingga jeda waktu tak mampu menjabarkan resah langit yang muram

Tidak !
Begitu bulan kan sedikit saja tersenyum kepada mentari mengintip di balik bumi
Lalu apakah senyum itu akan bertahan dalam catatan langit
Atau hanya akan menghilang bersama gelombang pasang

Bukankah itu tanyamu
Melebihi binatang malam bersuara lantang
Mengarah kata makna akan bercumbu kembali gelap

Dan akhirnya
Inilah kisah malam dalam langkah kecil sang kucing hitam.

Jumat, 18 Oktober 2013

~ Tetaplah Bersamaku Sahabat ~

Ketika kisah cinta itu usai
Mungkin butuh waktu panjang untuk membiarkan rasa reda lalu menghilang
Walau terkadang kenangan itu masih lagi tersisa jadi cerita usang
Karena itu tetaplah bersamaku sahabat

Walau bukan mudah untuk jadi tangguh
Namun bukankah kita para penjaga tanah harapan tempat tersemai jutaan impian
Mengapa harus jadi lemah ketika badai menghempas letih raga

Karena seperti yang kau tahu
Bukankah kehidupan bukan hanya pengajaran tentang hangatnya mentari pagi
Atau indahnya lazuardi yang memerah saga

Karena kehidupan juga beri terjemahan arti perjuangan
Bahagia tidak tercipta percuma
Ada pengorbanan yang mesti siap kau berikan

Karena hidup juga akan bergolak laksana gelombang pasang yang siap menjunamkan jiwa-jiwa yang lemah kedasar labirin keputusasaan

Walau kita harus merangkak di kaki waktu
Tapi tak kan pernah ku ijinkan keputusasaan jadi senyawa di desah nafasku
Karena mimpi adalah kekuatan kita untuk jadi pencipta sejarah pada masa depan
Maka melangkahlah bersamaku sahabat
Dan juga mimpi-mimpi kita yang masih tersisa.

~ Diantara Rasa ~

Diantara resah yang mengusik
Ada debar rindu menyapa sudut gelap relung hati yg selama ini tak tersentuh
Ada tanya yang tercipta tentang hadirnya rasa didetak waktu
Dan ada aku yang masih tak mampu katakan tentang rasaku

Mungkin aku tampak lemah
Atau mungkin terlihat menyia-nyiakan masa
Jawaban akan tampak sempurna jika ku tak terus menghimpun tanya
Tapi apakah cerita dongeng akan selalu berakhir bahagia

Diantara pengembaraanku menjelajahi tanah kudus tempat tersemai jutaan mimpi yang tak tersentuh
Aku tak mengerti ketika langkahku terhenti pada satu destinasi yang masih samar
Aku juga tak tahu apakah ini hanya sekedar pelangi yang berkamuflase
Ataukah rasa yang nyata tanpa harus terjebak dalam bianglala imajinasi

Namun jujur aku menikmati senjaku dalam gairah yang berbeda
Walau akhirnya lazuardi tetap tampak memerah saga.

~ Ketika ~

Ketika ribuan senja di butuhkan pemahaman atas sakit yang diberikan
Maka selama itu pula
Sang pemilik kepak sayap mencoba belajar memahami tentang hakikat kenyataan
Bahwa sebuah catatan langit telah menjabarkan tentang kisahnya
Dan bukankah kau mengerti rasa itu

Lalu ketika kepak sayap yang patah itu kini telah kembali sempurna
Salahkah ia bila mulai merindukan langit?
Dan meninggalkanmu
Juga kidung kebijaksanaan yang selalu kau ajarkan

Apalagi setelah ditemukannya tanah harapan baru tempat himpunan semaian mimpi-mimpi tersimpan

Namun kepergiannya bukan berarti dia berhenti melupakanmu
Hanya belajar untuk jadi tangguh
Agar air matamu tak jadi sia-sia
Apalagi banyak pelajaran yang coba dia terjemahkan

Dan apakah kau tahu..
Bahwa sang pemilik kepak sayap itu yang kini akan jadi penjagamu walau hanya dalam diam.

~ Harapku ~

Ku jejaki langit yang perlahan menghitam
Masih tersisa senyum mentari di sebalik rimbunnya hujan yang basahi beranda tadi
Seketika ku terjaga akan dingin yang tercipta
Bahkan tempias angin serasa membasahi tiap sudut kata yang terucap olehku dan juga mereka
Semoga anugerah ini adalah sebuah berkah
Bukan jadi salah satu bencana yang sekedar menyadarkan kita yang terlupa

Aku masih lagi di sini
Mencari penggalan mimpi-mimpi yang belum terselesaikan
Apalagi ketika kata-kataku tak mampu lagi terangkai dalam ayat-ayat yang bercerita tentang indahnya lazuardi yang memerah saga

Membuatku merasa hanya mampu menatap bisik sang bayu
Tanpa mampu memahami celoteh sang waktu

Lalu apakah aku telah kehilangan pemahamanku
Atau aku tak lagi mampu menterjemahkan imaginasi yang tertinggal.

~ Mungkin Saja ~

Hadirmu adalah satu kenyataan yang terindah
Layaknya ruang tunggu pada penantian sebuah destinasi
Walau terkadang tanya dan resah tak juga mampu ku tepis saat mengusik
Namun aku percaya pada cinta yang telah tertitip sempurna
Bahwa kan ku jaga cintamu hingga akhir waktu

Mungkin sempat tercipta rasa yang jujur tiba-tiba dipertanyakan oleh sang waktu
Seberapa pantaskah penantian ini?

Bahkan ketika ku coba telusuri jawab di kaki langit
Aku akhirnya di hadapkan pada satu pemahaman yang tidak terpahami
Bahwa mungkin saja semua yang di perjuangkan ternyata hanya sebuah ilusi
Maka jangan lihat ke arahku untuk mencari jawab itu
Tapi cobalah belajar untuk tanyakan pada hatimu.