Rabu, 16 Oktober 2013

~ Jangan Panggil Aku Hina ~

Kerontang sudahkah santun itu dari lidahmu
Hingga tak kau temukan lagi ayat-ayat indah untuk mengkisahkan tentang laramu

Begitu rendahkah kini adabmu
Hingga tak lagi berkemanusiaan untuk menceritakan sedihmu

Atau kini hatimu telah menghitam karena benci yang kau tanam ditanah yang seharusnya kau semai indahnya kasih sayang

Mengapa masih lagi kau tuding jari itu kearahku hanya sekedar melepas amarahmu

Apa salahku?
Lalu mengapa kau masih tak mampu melihat kebenaran yang tak bisa kau pahami

Jangan panggil aku hina..
Hanya karena dendam yang tak beralasan dan tak mampu kau teriakkan

Jangan berteriak tentang Tuhan !

Jika hatimu masih lagi biadab melebihi hewan yang tak beradab.

Jangan panggil aku hina..
Jika kau masih tak mampu melihatku dengan kebenaran.

~ Gairah Yang Pudar ~

Sesak nafas hiasi rongga dada yang
tersumbat sepi
Apalagi saat kolong-kolong langit tetap
tak mampu sempurnakan gairah yang
terpendam sepi

Padahal gairah itu masih disana

Masih lagi mengharap satu kewujudan
setelah sekian lama hilang dalam gairah
yang pudar
Apalagi rindu ini begitu membara

Yang masih saja berharap sepi tak
memakan jiwa yang rindukan sajak-
sajak

Dan entah sudah berapa juta kata harus teraborsi
dengan paksa saat masih lagi tersimpan
gairah untuk melahirkannya dalam
sebuah konsep yang tak sekedar
bayang-bayang

Namun sayangnya rahim otakku
ternyata mandul
Karena sekeras apapun aku berjuang
Tetap saja aku terkapar dalam gairah
yang pudar.

~ Sketsa Ilusi ~

Ku tatap kosong pada waktu yang enggan bicara saat ku tanya tentang keberadaan senyumnya yang tak lagi indah

Padahal dulu..
Siluet itu yang selalu jadi tujuanku saat kembali dari pengembaraan jiwaku yang panjang

Namun kini yang ku temukan hanya sisa-sisa kenangan yang tak mampu bicara
Bahkan perlahan punah dari mulut hari yang lebih banyak diam dalam tanya tak berjawab

Aku tahu..
Tak seharusnya ku cari lagi jejakmu yang tak lagi bertapak

Aku sadar..
Aku seharusnya tak boleh lagi menanti siluetmu di ujung senja sama seperti dulu

Namun sketsa wajahmu terus mengusikku ketika rindu itu menyapa sepiku
Padahal ragamu tak lagi termiliki waktu

Entah mengapa..
Aku masih saja di sana menanti senja..
Diantara nisan yang jadi saksi keberadaan jasadmu yang kini hanya jadi sketsa ilusi.

~ Ini Tentang Sepiku ~

Ku telusuri kembali bayang-bayang jejak sepi disebalik jendela beranda waktu yang masih saja enggan ku tutup dari kenangan

Masih sama ternyata..

Rupa kesedihan yang dulu coba ku tanam di tanah peradaban
Hanya sekilas menghilang tersapu senyuman sang waktu

Padahal seharusnya aku sadar..

Aku sebenarnya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa ku takut untuk di tinggalkan dalam kesedihan
Karena aku ternyata tak setangguh karang yang sanggup menentang ombak ditepian samudera

Jiwaku ternyata kerdil..

Membuatku tak mampu lagi melukis sketsa bahagia seperti dulu
Padahal aku tahu pigura itu memiliki kanvas tak berpenghuni

Aku selalu berteriak hanya tuk menyapa senja
Padahal aku hanya takut akan sepi gelap yang menghiasi mimpiku yang terbina di tengah peradaban cahaya

Akhirnya itu hanya membuatku berani menelusuri kembali bayang-bayang jejak sepi disebalik jendela beranda waktu
Sama seperti dulu..
Saat berulangkali bahagia meninggalkanku dalam tanya yang tak terselesaikan.