Rabu, 16 Oktober 2013

~ Kecewa ~

Selarik kata bermain dalam untaian mimpi-mimpi yang tak lagi sempurna

Tampak sepi menapak enggan lagi berharap
Hanya senda kelu tawa yang terdengar di beranda hari
Hampa..

Masih lagi jariku meraba tiap lekuk hati yang menyimpan rasa itu dengan indah
Ternyata tak lagi sempurna
Apalagi saat kusadari warnanya tak lagi berkilau sama
Kecewa..

Mengapa kau biarkan olok-olok di luar sana jadi belenggumu
Padahal ku tak pernah perduli tiap tatap sumbang yang mengecam asaku tentangmu

Itu karena kau masih menganggapku sekedar ilusi

Jujur aku tak lagi mampu tersenyum lagi pada waktu
Aku enggan lagi bahagia sembunyikan kecewaku

Karena aku bukan sketsa mayamu !

Degup jantungku kini hanya memaki air mata yang dulu sempat hilang
Kecewa ini kembali melukai kepak sayap tangguhku
Pilu..

Maka mengapa tak hentikan saja semuanya laksana usainya sebuah permainan langit

Agar kecewa ini tak terus merajam
Padamu..
Padaku..

~ Catatan Langit ~

Diantara bait-bait kata yang terajut dalam untaian risalah yang beralkisah

Terkadang hadir bersama jutaan rasa yang tak lagi terbelenggu
Tawarkan bahagia dan airmata laksana sebuah permainan dari langit
Yang seakan menginginkan kita belajar dari perihnya luka yang di beri sang waktu
Namun masih tetap tersenyum seperti yang diberi hari

Bukan mudah untuk memahami jejak-jejak kehidupan yang terkadang hanya seperti sketsa tak terbentuk

Lalu apakah kita akan pergi saat
perjuangan belum lagi kita lakukan untuk mengambil hak yang seharusnya diterima

Maka biarkanlah catatan langit itu
bercerita dengan sendirinya
Sedang tugas kita hanyalah pemeran-pemeran hikayat langit yang sudah ditentukan olehNYA.

~ Perjalanan Musim ~

Ketika daun-daun menguning Diantara tempias angin musim yang menghantarkanku pada satu titik rindu pada hujan

Masih lagi terbayang kenangan tentang hujan tanpa henti di senja yang tertinggal kelam tanpa merah saga
Serasa sempurnakan harap akan cinta yang terjaga hati di seberang sana

Apalagi saat deru sang bayu seakan
mengingatkan kembali pada aroma rasa yang tercipta indah kala itu
Mencipta kasih yang membuatnya tak pernah lelah menelusuri tiap lekuk relung-relung senyum waktu
Menelusur hingga pada akhir setia
penantian raga yang tak bersketsa

Walau terkadang resah hadir tak
mampu terpungkiri jejaknya
Saat di beranda hati dia mencipta tanya akan harum rindu yang terasa berbeda tak seperti biasa

Dan mengalirlah ragu mengembara
mencari setiamu di tiap silsilah
peradaban kenangan yang enggan ditinggalkan

Yang terkadang berharap pada isyarat dari kerlip aurora yang kan
terjemahkan kejernihan cintamu yang tak tersentuh

Karena bagiku..

Cinta adalah sebuah kesadaran untuk mampu menghadirkan rasa tanpa harus merasa terpaksa.

~ Kesatria Jingga ~

Deru nafas berlari menjejaki tiap
kalimat yg masih berselindung tanpa
makna

Mencoba memahami tiap gurauan sang
waktu dalam pahatan penciptaan
bahasa kalbu tak tersentuh
Laksana kupu-kupu yang tak berhenti
mengembara mencari madu selepas
dahaga mendera jiwa
Walau terkadang letih raga mencoba
bertahan di kerasnya pertarungan
kehidupan

Jemari itu tetap terbebaskan tanpa
sengketa menguntai tiap bait bahasa
nurani yg terkadang tak mampu
berkumandang layaknya seruan dari
langit

Dan dalam diam..

Sang kesatria jingga tetap bertahan di
sunyinya tanah peradaban dari riuh hati
nurani yg tak lagi mampu terjemahkan
cinta dalam kidung yg lebih bijaksana.